Jika sudah muncul perasaan nikmat maka meninggalkannya bukan perkara mudah. Sesuatu yang dirasa nikmat pasti dikejar. Apalagi sudah pernah merasakannya dan menikmatinya. Memang awalnya hanya coba-coba, tentu di lain waktu akan ada perasaan ingin mengulangi nya lagi. Meskipun secara intelektual kita bisa memahami bahwa hal tersebut dilarang atau dalam bahasa agama termasuk perbuatan dosa tetap saja itu tidak jadi penghalang.
Jadi ini bukan persoalan tentang apa yang kita ketahui. Melainkan tentang apa yang kita rasakan. Kalau sudah merasakan kenikmatannya pasti di lain waktu ingin coba lagi. Apalagi caranya sudah tahu dan semakin mudah. Sekali, dua kali dan seterusnya berulang terus pola nya. Sehingga terbentuk pola yang teratur dan menjadi kebiasaan.
Temukan daya ungkitnya.
Oke. Jadi faktanya memang bahwa pornografi itu menimbulkan kenikmatan ketika mengonsumsinya. Itulah daya ungkitnya : k.e.n.i.k.m.a.t.a.n. Maka untuk bisa menghentikannya kita harus bisa mengaitkan dengan lawan kenikmatan yaitu kesengsaraan ketika melakukannya. Dalam NAC, menemukan daya ungkit merupakan langkah ke dua.
Tapi bagaimana selanjutnya? Apakah kita harus menghilangkan nafsu seks dalam diri kita? Sebab hal-hal terkait dengan seks adalah nikmat dan sesuai dengan hawa nafsu. Jika itu ingin dikaitkan dengan kesengsaraan pasti bingung jadinya. Coba pikir? Apanya yang bisa membuat sengsara? Sedangkan sebagai manusia normal, nafsu seks itu sudah built-in dalam diri kita.
Jadi, meskipun kita sudah tahu bahwa itu dosa, tetap saja ada saat di mana dosa itu sama sekali tidak menakutkan. Karena dosa yang muncul saat perbuatan dilakukan tidak menghadirkan kesengsaraan secara langsung. Sebaliknya kenikmatan lah yang secara langsung kita rasakan. Bahkan meskipun ada sedikit penderitaan dalam prosesnya namun kenikmatannya tetap melebihi rasa menderitanya sehingga semakin membuat kita jadi tambah bergairah. Adrenalin pun meningkat.
Jadi bagaimana menghentikannya?
Pada titik tertentu sebetulnya ini bukan perkara sulit. Sebab setiap perbuatan ada tahapannya. Manusia dibatasi oleh ruang dan waktu yang membuat segalanya tidak bisa ujug-ujug terjadi. Semua ada pola nya. Ada langkah awal dan ada langkah akhir. Begitu juga dengan kebiasaan menonton video porno. Kita bisa pelajari detailnya agar kita tahu pada langkah keberapa prosesnya bisa digagalkan dan pada langkah keberapa pula menghentikannya jadi sulit.
Ini yang dimaksud dengan langkah ke tiga dalam NAC yaitu menginterupsi pola setelah mengenali polanya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (QS. An-Nuur [24]: 21)
Sekedar mengingatkan bahwa ada 6 tahapan NAC (Neuro-Associative Conditioning) yaitu:
- Putuskanlah apa yang benar-benar anda inginkan dan apa yang menghalangi anda untuk mendapatkannya sekarang.
- Dapatkanlah Daya Ungkit: Asosiasikanlah kepedihan luar biasa dengan tidak berubah sekarang dan kenikmatan luar biasa dengan mengalami perubahan sekarang!
- Interupsilah pola yang membatasi itu.
- Ciptakan alternatif baru yang memberdayakan.
- Kondisikan pola barunya hingga konsisten.
- Ujilah itu!
Tahap pertama sudah jelas yaitu kita ingin menghentikan secara permanen kebiasaan menonton video porno. Tahap kedua menemukan daya ungkit juga sudah yakni terletak pada kenikmatan yang menyertainya. Daya ungkit ini yang harus diganti menjadi sebaliknya yaitu penderitaan ketika mengerjakannya atau kenikmatan ketika meninggalkannya. Lalu langkah ketiga yaitu mempelajari pola nya dan menginterupsi pola tersebut.
Dalam kasus kecanduan video porno pola kejadiannya adalah sebagai berikut :
- Kondisi Libido lagi tinggi ditambah tidak ada pelampiasan.
- Kondisi sedang tidak sibuk alias banyak waktu luang.
- Tidak sengaja membaca berita kasus perkosaan, perselingkuhan dan cerita-cerita dewasa atau
- Tidak sengaja melihat konten porno berupa foto atau video.
- Akhirnya penasaran lalu dengan sengaja mencari konten video yang lainnya.
- Akhirnya secara aktif menikmatinya. Sambil ada perasaan bersalah. Tapi sulit untuk berhenti langsung saat itu juga karena sudah terlanjur menikmatinya.
Seperti itulah kurang lebih pola kejadiannya. Urutannya mungkin tidak selalu seperti itu. Tapi yang perlu dicermati adalah mulai fase 3 dan seterusnya. Jika di fase ini tidak terjadi kewaspadaan dan justru pembiaran maka besar kemungkinan akan berlanjut ke fase berikutnya karena rasa penasaran dan imajinasi yang tak terkendali. Biasanya setelah itu akan terus berlanjut sampai fase 6. Jika sudah demikian maka setan sudah menang telak.
Pada fase 6 meskipun tiba-tiba sadar sulit sekali untuk mundur. Pemahaman bahwa Allah Maha Menyaksikan dan Maha Mengetahui pun, akan terabaikan. Jangankan di bulan biasa, bahkan saat di bulan Ramadhan sekalipun jika sudah masuk pada fase 5 dan 6 benar-benar sulit untuk menghentikannya. Pengetahuan menjadi tinggal pengetahuan semata. Iman kuat. Tapi Imin yang ngga tahan. 😁
Sama seperti tergoda nya Nabi Adam makan buah khuldi. Setan terus menggambarkan hal-hal yang baik dan menarik kepada nabi Adam terkait makan buah terlarang tersebut. Udah gitu, nabi Adam ternyata tidak punya kemauan yang kuat untuk menghindarinya. Artinya sebagai manusia memang ada tertarik juga beliau. Nah modal itu yang digunakan oleh Iblis menggoda nabi Adam. Sehingga terjadilah apa yang terjadi.
Jadi untuk bisa menghentikan kebiasaan melihat konten porno jangan coba-coba mendekatinya. Jika fase 1 dan 2 sudah tercipta kondisinya maka harus berhati-hati. Perbanyak sabar. Jika tidak sengaja ketemu godaan di fase 3, abaikan saja. Kecuali bisa memastikan untuk hanya sampai di fase 3 saja dan tidak melanjutkan ke langkah berikutnya. Tapi ini lebih sulit. Jadi lebih mudah menghindarinya dengan kesadaran dan fokus ke hal yang lain yang lebih positif.
Jurus setan sebenarnya berpola. Ada fase-fase yang harus dilewati juga. Jika tidak bisa menggoda manusia sampai ke fase 6, setan tidak akan menyerah dan akan terus berusaha. Minimal manusia sudah mau masuk ke fase 3. Itu saja sudah prestasi karena tinggal menunggu momen untuk melanjutkan ke fase berikutnya.
Semoga Allah SWT menolong kita semua dari hal-hal yang bersifat negatif.